Tingkatan Undak Usuk Bahasa Sunda

Undak Usuk Bahasa Sunda memiliki tiga tingkatan pokok yang setiap tingkatannya itu memilki dua fungsi atau tahapan masing-masing, sehingga keseluruhan tingkatan UUBS menjadi enam tahap, yakni bahasa (1) kasar, (2) sangat kasar, (3) sedang, (4) menengah, (5) halus, dan (6) sangat halus.

Undak Usuk Bahasa Sunda (UUBS) berarti tingkatan-tingkatan atau tahapan-tahapan bahasa Sunda. Lalu apa saja tingkatannya itu, sehingga tingkat tutur bahasa Sunda ini tergolong “lebih rumit” jika dibandingkan dengan bahasa lain? Begini, jika sekolah formal di Indonesia mengenal tingkat dasar, menengah, atas, dan tinggi, maka UUBS “formal” mengenal tingkat kasar, sedang, dan halus. Ketiga tingkatan ini masing-masingnya memiliki dua tahapan atau fungsi tersendiri.

Bahasa kasar itu ada yang kasarnya biasa saja dan ada pula yang amat sangat kasar. Bahasa sedang itu ada yang benar-benar sedang dan ada pula yang disebut menengah. Halus itu, ada yang halus biasa dan ada pula yang halus luar biasa. Jadi, kalau dijumlah-jamléhkan, keseluruhan UUBS itu menjadi enam tahap. Tahapan tertinggi ialah bahasa sangat halus, sedangkan tahapan terrendahnya adalah bahasa sangat kasar.

Tingkatan Kata dalam UUBS

Bahasa kasar itu terdiri dua tahap, yakni Basa Kasar (Ka Sahandapeun) atau Basa Loma, dan Basa Kasar Pisan atau Basa Cohag (bahasa kasar dan bahasa sangat kasar).

Basa Kasar itu digunakan untuk berbicara kepada teman sebaya, kepada sesama, kepada kawan, karib, atau sahabat. Ya, orang yang diajak bicaranya itu berusia, berkedudukan, dan atau memiliki latar pendidikan yang relatif setara. Selain daripada itu, tanpa untuk membentuk suatu pemerintahan, pada zamannya, Basa Kasar juga digunakan untuk berbicara kepada orang lain yang usia dan kedudukannya lebih rendah; serta untuk membicarakan orang yang kedudukannya lebih rendah daripada yang diajak bicara. Itu zaman dulu. Bahasa resmi, terutama ragam tulis seperti buku, makalah, laporan ilmiah, berita, atau artikel dalam media cetak, menggunakan tingkatan ini. Pada hal ini si penulis sedang menganggap bahwa pembaca itu kedudukannya setara, kalaupun tidak lebih rendah.

Sedangkan Basa Kasar Pisan digunakan pada saat marah atau ketika sedang bertengkar alias cékcok paréa-réa omong. Tentu ini tidak selalu harus, sebab bertengkar dengan tidak menggunakan Basa Kasar Pisan pun bisa. Malahan “lebih sopan”. Tapi akan terdengar lucu (ketika tidak menggunakan gaya bahasa)! Pun, bahasa ini digunakan saat berbicara kepada dan membicarakan ihwal binatang. Hmm.., ngomong sama binatang dan ngomongin binatang itu harus berbeda dengan ngomong sama manusia. Ya, sebab manusia bukanlah binatang melainkan hewan (yang berakal). Aha! Tatakrama! Kebiasaan, ngomong sama binatang pake bahasa manusia!

Basa Sedeng itu memiliki dua tahap, yakni Basa Sedeng (Ngabasakeun Sorangan) atau Basa Lemes Keur Ka Sorangan, dan Basa Panengah (bahasa sedang dan bahasa menengah). Beda kan antara “sedang” dan “menengah”? Dalam UUBS, sedang itu kualitasnya lebih tinggi daripada menengah.

Basa Sedeng itu digunakan untuk membicarakan diri sendiri ketika ia sedang menggunakan bahasa halus. Juga digunakan untuk membicarakan teman sebaya kepada orang yang lebih tinggi. Di samping itu, digunakan juga untuk membicarakan diri sendiri kepada orang yang belum dikenal pada saat orang itu menggunakan bahasa halus. Pula digunakan untuk membahasakan pembicaraan pribadi anak kecil kepada orang lain.

Intinya, bahasa sedang ini adalah kata-kata khusus yang digunakan oleh penutur atau penulis pada saat dia atau mereka membicarakan dirinya sendiri dalam bahasa halus. Ya, bahasa sedang ini selalu pasangannya dengan bahasa halus. Tak heran jika kemudian tingkatan bahasa ini lebih sering disebut “basa lemes keur ka sorangan” (bahasa halus untuk diri sendiri) sebagai pasangan dari “basa lemes keur ka batur” (bahasa halus untuk orang lain) yang ini merupakan Basa Lemes Biasa.

Basa Panengah digunakan untuk berbicara kepada orang yang kedudukannya lebih rendah tetapi usianya lebih tua. Saya ini memang pembantu Anda, tapi usia saya lebih tua daripada Anda. Maka ketika Anda berbicara dengan saya, Anda harus menggunakan bahasa menengah. Jangan pake basa kasar! Itu tatakrama! Saya sendiri akan menggunakan bahasa sedang (untuk diri saya) dan bahasa halus (untuk Anda). Sebab meski usia Anda lebih muda, kedudukan Anda lebih tinggi dari saya. Atau, bahasa ini juga digunakan saat membicarakan orang lain yang kedudukannya lebih rendah tetapi usianya lebih tua daripada orang yang berbicara dan yang diajak bicara. Saya ini pembantu Anda tetapi usia saya lebih tua, maka ketika Anda berbicara dengan isteri Anda seraya menyebut-nyebut saya, maka dalam ungkapan-ungkapan yang menyebut-nyebut saya-nya itu semestinya Anda menggunakan bahasa ini. Itu tatakrama!

Basa Lemes itu memiliki dua tahap, yakni Basa Lemes (Biasa) atau Basa Lemes Keur Ka Batur, dan Basa Lemes Pisan atau Basa Luhur (bahasa halus dan bahasa sangat halus).

Basa Lemes digunakan untuk berbicara dan atau membicarakan orang lain yang lebih tinggi (usia dan atau kedudukannya). Pun, digunakan kepada orang yang belum dikenal kendatipun usia orang itu lebih muda. Pula, digunakan pada saudara yang dalam struktur kekerabatan lebih tinggi kendatipun usianya lebih muda. Sering pula digunakan pada anak kecil (untuk tujuan menanamkan sopan-santun).

Harus dicatat bahwa bahasa halus ini sebatas digunakan saat membicarakan orang lain atau menyebut-nyebut yang diajak bicara dan yang dibicarakan. Sedangkan pada saat kita menyebut-nyebut diri sendiri atau membicarakan perihal diri sendiri, kita harus menggunakan Basa Sedeng. Rumit! Ya memang begitu. Makanya saya tuliskan di sini, bahwa Basa Sedeng itu pasangannya adalah Basa Lemes. Saya juga tuliskan, bahwa inilah dua tingkatan dalam UUBS yang paling sering diajarkan baik oleh orang tua maupun guru: bahasa sedang (basa lemes keur ka sorangan) dan bahasa halus (basa lemes keur ka batur).

Tingkatan paling tinggi dari UUBS adalah Basa Lemes Pisan atau Basa Luhur. Ini digunakan terhadap orang yang kedudukannya sangat tinggi, semisal presiden, gubernur, bupati, dan para stafnya. Kecuali untuk menyebut Tuhan, perbincangan dalam kisah pewayangan, atau roman-roman sejarah, bahasa sangat halus rasanya sudah tidak digunakan lagi. Ya, bahasa sangat halus itu memang digunakan untuk berbicara kepada para pangagung dan ménak, sementara di masa ini yang disebut pangagung dan ménak itu sudah tidak kita kenali lagi, atau setidak-tidaknya, jabatan pangagung sekarang kedudukannya berbeda dengan pangagung pada masa dahulu itu!

Bentuk Kata dalam UUBS

Bahwa tidak semua kata Sunda menduduki atau memiliki tahapan-tahapan tertentu dalam UUBS. Itu sudah terang. Pun, tidak semua kata-kata Sunda yang terdapat dalam UUBS itu memiliki enam bentuk kata. Ada kata-kata yang tidak memunyai salah satu, salah dua, atau salah tiga dari tahapan UUBS itu. Maksudnya apa ya “salah dua” dan “salah tiga”? Pikirin aza dah!

Atau, kalau masih bingung, begini saja: Tidak semua kata dalam UUBS memiliki enam tahap, tetapi semuanya pasti memiliki tiga tahap, yakni (1) basa kasar, (2) basa sedeng, dan (3) basa lemes. Dari ketiga tahapan dalam UUBS ini, bentuk katanya ada yang berbeda pun ada yang sama antara satu dengan lainnya. Yang sama itu benar-benar sama. Sama ejaannya, sama lafalnya, dan sama maknanya. Pokoknya sinonim banget dah. Yang bedanya itu hanya pada bentuknya saja.

Ulama bahasa Sunda membuatkan tiga klasifikasi ihwal bentuk-bentuk kata dalam UUBS. Bentuk pertama ialah UUBS yang bentuk kata kasar, sedang, dan halusnya berbeda. Kata “balik” yang berarti “pulang”, misalnya, bahasa sedangnya adalah “wangsul” sedangkan bahasa halusnya “mulih” (bahasa menengahnya “mulang” dan bahasa sangat kasarnya “mantog”). UUBS bentuk kedua ialah UUBS yang kata kasarnya berbeda tetapi kata sedang dan halusnya sama. Kata “kudu” yang berarti “harus”, kata sedang dan halusnya sama, yaitu “kedah”. Adapun UUBS bentuk ketiga ialah UUBS yang kata kasar dan sedangnya sama tetapi kata halusnya berbeda. Misalnya saja kata “leungeun” yang berarti “tangan” yang bisa berupa kata kasar pun kata sedang, sedangkan kata halusnya adalah “panangan”.

Kata-kata yang berhubungan dengan istilah kekerabatan pada umumnya termasuk ke dalam bentuk ketiga. Namun demikian, dalam kata sedangnya biasanya ditambahkan kata “pun” dan pada kata halusnya ditambahkan kata “tuang” di mukanya. Misalnya, secara berurutan dari kata kasar, sedang, halus: aki (kakek) – pun aki – tuang eyang; adi (adik) – pun adi – tuang rai; lanceuk (kakak) – pun lanceuk – tuang raka; bapa (ayah) – pun bapa – tuang rama; dan sebagainya. Penambahan kata “pun” menujukkan kepemilikan pribadi; “pun aki” berarti “kakek saya”, sedangkan kata “tuang” menunjukkan kepemilikan orang lain; “tuang eyang” berarti “kakek kamu/ bapak/ ibu/ Saudara”.

Saya tuliskan lagi bahwa tidak semua kata Sunda memiliki tahapan dalam UUBS dan tidak semua kata dalam UUBS terdiri dari enam tahap. Lalu, jenis kata apa saja yang terdapat dalam UUBS itu? Pada umumnya berjenis verba (kecap pagawean), nomina (kecap barang), ajektiva (kecap kaayaan), dan adverbia (kecap katerangan).***

Komen pada “Tingkatan Undak Usuk Bahasa Sunda

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>